Senam lantai & akrobat
Bagi orang kebanyakan, nama capoeira masih terasa asing. Meski bisa jadi
pernah melihatnya, suatu saat entah di mana. Seni beladiri ini mendunia
dengan bergerilya melalui film-film Hollywood atau permainan video
playstation.
Cirinya segera terlihat dari gerakan kuda-kuda yang khas, disebut
ginga (dibaca: jinga). Kedua kaki maju bergantian dengan tangan mengayun
sebatas dada. Sekilas, gerakannya mirip pogo, tarian penggemar musik
ska, yang beken di kalangan anak muda dua-tiga tahun lalu.
Saat memperagakan “jurus-jurus” atau bertarung, gerakan kaki
capoeirista tampak lebih dominan. Sering posisi kepala lebih rendah,
hingga tubuh bertumpu pada tangan. Banyak pula gerakan yang merupakan
variasi dari lompatan atau salto, hingga terlihat seperti perpaduan
antara senam lantai dan akrobat.
Dalam pertarungan, gerakan akrobatik digunakan sebagai dasar
serangan. Sedang pukulannya bisa dilakukan dengan kepala, tangan, siku,
lutut, atau kaki. Pada pertarungan bawah (ground fighting), capoeira
dapat memberi tekanan berarti, meski tidak terlalu dapat memberi
kuncian.
Tak seperti beladiri lain, capoeira tidak terlalu banyak melakukan
gerakan tangan. Tidak pula mengenal senjata dalam pertarungan. Jika ada
tongkat atau parang yang digunakan, itu bagian dari tari maculele.
Tarian tradisional Brazil yang kadang dimainkan capoerista.
Pertarungan jadi tampak seperti adu akrobatik, capoeira pun jadi
layak ditonton sebagai hiburan. Maklum, gerakan dasarnya memang tarian.
Pemain begitu bebas berekspresi dan melakukan variasi gerakan. Terasa
wajar pula jika kemudian ada yang meragukan keampuhannya dalam
pertarungan gaya bebas, bila dibandingkan dengan beladiri dari Asia
seperti karate atau taekwondo.
Namun, tak semua orang setuju dengan pendapat itu. Paul Andrew
Zellinger Steven (19), instruktur capoeira di Jakarta Selatan justru
merasa menemukan kebebasan. “Kita bisa memadukan gerakan apa pun seindah
mungkin. Tidak akan cepat bosan, lebih dinamis,” kata penyuka berbagai
olahraga beladiri itu.
Suasana dinamis semakin terasa saat peragaan pertarungan di roda
(hoda), arena berbentuk lingkaran. Selagi bertarung, sesama capoeirista
di sekeliling arena akan bernyanyi sambil bertepuk tangan diiringi
berimbau, alat musik berbentuk busur berdawai tunggal. Nada-nada khasnya
terasa mistis di tengah bunyi alat perkusi lain seperti atabaque
(konga), pandero (tamborin), dan agogo (mirip pipa berbentuk “u”
vertikal).
Peran musik, terutama berimbau, dalam hoda begitu sentral karena ia
menentukan tempo nyanyian, yang juga menentukan pula sifat pertarungan,
apakah keras atau bersahabat. Filosofinya, alat dari kayu bariba itu
adalah “sentral” capoeira.
Agar komplet, capoeirista juga wajib melahap filosofi capoeira, yang
banyak disarikan dari pola gerakan. Ajaran ini juga banyak diserap dari
capoeira asli, atau disebut capoeira angola, yang masih hidup
berdampingan dengan capoeira regional atau modern. Gerakan, musik,
nyanyian, dan filosofi merupakan materi yang harus dikuasai untuk
menentukan kenaikan “tingkat”.
Sejarah Singkat
Menurut asal kata, senam (gymnastics) berasal dari bahasa Yunani, yang
artinya: “untuk menerangkan bermacam-macam gerak yang dilakukan oleh
atlet-atlet yang telanjang”. Dalam abad Yunani kuno, senam dilakukan
untuk menjaga kesehatan dan membuat pertumbuhan badan yang harmonis, dan
tidak dipertandingkan. Baru pada akhir abad 19, peraturan-peraturan
dalam senam mulai ditentukan dan dibuat untuk dipertandingkan. Pada awal
modern Olympic Games, senam dianggap sebagai suatu demonstrasi seni
daripada sebagai salah satu cabang olahraga yang teratur.
Menurut Menke G. Frank dalam Encyclopedia of Sport, as Bannes and
Company, New York, 1960, senam terdiri dari gerakan-gerakan yang
luas/banyak atau menyeluruh dari latihan-latihan yang dapat membangun
atau membentuk otot-otot tubuh seperti : pergelangan tangan, punggung,
lengan dan lain sebagainya. Senam atau latihan tersebut termasuk juga :
unsur-unsur jungkir balik, lompatan, memanjat dan keseimbangan.
Sedang Drs. Imam Hidayat dalam bukunya Penuntun Pelajaran Praktek Senam,
STO Bandung, Maret 1970 menyatakan, “Senam ialah latihan tubuh yang
diciptakan dengan sengaja, disusun secara sistematik dan dilakukan
secara sadar dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara
harmonis”.
Olahraga senam sendiri ada bermacam-macam, seperti : senam kuno, senam
sekolah, senam alat, senam korektif, senam irama, turnen, senam
artistik. Secara umum senam memang demikian adanya, dari tahun ke tahun
mengalami penyempurnaan dan semakin berkembang. Yang dulunya tidak untuk
dipertandingkan, namun sejak akhir abad 19 mulai dipertandingkan.
Dibentuklah wadah senam internasional, dengan nama Federation
International de Gymnastique (FIG), yang mengelola antara lain :
1. Senam Artistik (Artistic Gymnastics).
2. Senam Ritmik (Modern Rhytmic).
Senam Artistik serta perkembangannya di Indonesia
Lahirnya senam artistik di Indonesia yaitu pada saat menjelang pesta
olahraga Ganefo I di Jakarta pada tahun 1963, yang mana setiap artistik
merupakan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan, untuk ini
perlu dibentuk suatu organisasi yang berfungsi menyiapkan para
pesenamnya. Organisasi ini dibentuk pada tanggal 14 Juli 1963 dengan
nama PERSANI (Persatuan Senam Indonesia), atas prakarsa dari tokoh-tokoh
olahraga se-Indonesia yang menangani dan mempunyai keahlian pada cabang
olahraga senam. Promotornya dapat diketengahkan tokoh-tokoh dari daerah
seperti : Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara.
Wadah inilah kemudian telah membina dan menghasilkan atlet-atlet senam
yang dapat ditampilkan dalam Ganefo I dan untuk pertama kalinya pula
pesenam-pesenam Indonesia menghadapi pertandingan Internasional.
Kegiatan selanjutnya adalah mengikut sertakan tim senam dalam rangka
Konferensi Asia Afrika I dan dalam Ganefo Asia, dimana untuk
mempersiapkan atlet-atlet Indonesia ini dipanggil pelatih-pelatih senam
dari RRC, maka dengan demikian Indonesia mengalami kemajuan dalam
prestasi olahraga senam. Tetapi sangat disayangkan bahwa harapan yang
mulai tumbuh harus berhenti sementara oleh karena suasana politik yaitu
saat meletusnya G 30 S/PKI, sehingga pelatih-pelatih dari RRC harus
dikembalikan ke negaranya.
Usaha untuk mengejar ketinggalan ini maka pada tahun 1967 dikirim
seorang pelatih Indonesia yaitu : Sdr. T. J. Purba ke Jerman Timur untuk
sekolah khusus pelatih senam artistik selama 26 bulan. Kemudian sebagai
titik tolak yang kedua adalah dimasukkannya cabang olahraga senam
artistik yang pertama kalinya dalam Pekan Olahraga Nasional (PON
VII/1969) di Surabaya, dan kemudian untuk seterusnya dimasukkan dalam
setiap penyelenggaraan PON.
Pengertian Senam
Senam adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang olahraga
tersendiri maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga
lainnya.Berlainan dengan cabang olahraga lain umumnya yang mengukur
hasil aktivitasnya pada obyek tertentu, senam mengacu pada bentuk gerak
yang dikerjakan dengan kombinasi terpadu dan menjelma dari setiap bagian
anggota tubuh dari komponen-komponen kemampuan motorik seperti :
kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelentukan, agilitas dan ketepatan.
Dengan koordinasi yang sesuai dan tata urutan gerak yang selaras akan
terbentuk rangkaian gerak artistik yang menarik.
Pada tingkat sekolah atau yunior pertandingan dapat dibatasi pada
nomor-nomor tertentu, biasanya senam lantai dan kuda-kuda lompat.
Pertandingan tingkat Nasional dan Internasional bagi pria terdiri dari 6
(enam) nomor yakni : senam lantai, kuda-kuda lompat, kuda-kuda pelana,
palang sejajar, palang tunggal, dan gelang-gelang. Sedang bagi wanita
ada 4 (empat) nomor : senam lantai, kuda-kuda lompat, balok
keseimbangan, dan palang bertingkat.
Penilaian diberikan oleh 4 (empat) orang wasit yang dipimpin oelh
seorang wasit kepala. Setiap peserta pertandingan harus melakukan 2
(dua) macam rangkaian pada setiap nomor atau alat, satu rangkaian wajib
(yang telah ditentukan terlebih dahulu) dan satu rangkaian pilihan atau
bebas masing-masing. Nilai seseorang adalah rata-rata dari dua nilai
tengah dengan membuang nilai tertinggi dan nilai terendah dari 4 (empat)
orang wasit. Pesenam dengan nilai akumulasi tertinggi menjadi juara ke I
dalam kategori serba bisa, tertinggi kedua menjadi juara ke II dan
seterusnya.
Juara regu ditentukan dengan penjumlahan 5 (lima) nilai terbaik dari 6
(enam) anggota regu dan setiap alat. 6 (enam) peserta terbaik dari semua
atlet turut dalam pertandingan final pada tiap-tiap atlet dan nilai
akhir yaitu rata-rata dari rangkaian bebas/pilihan dan wajib terdahulu
disatukan dengan nilai rangkaian bebas/pilihan dalam final. Nilai ini
menentukan urutan pemenang tiap alat.
Para wasit memberikan nilai pada waktu bersamaan. Nilai maksimum adalah :
10,000. Hukuman-hukuman diberikan dengan pengurangan nilai pada
pelaksanaan yang salah, penguasaan yang kurang baik, dibantu orang lain,
jatuh dari alat atau melampaui batas waktu. Selain itu dinilai pula
faktor kesulitan gerak dan penampilan estetikanya. Besar pengurangan
nilai adalah persepuluhan. Peraturan penilaian direvisi setiap 2 (dua)
tahun. Semua gerakan mempunyai faktor kesulitan yaitu : A, B dan yang
tersukar adalah C. Rangkaian latihan biasaya terdiri atas sikap-sikap
statis yang memerlukan tenaga yang besar disambung dengan
gerakan-gerakan berirama y agn sesuai. Sementara sejumlah berntuk gerak
memerlukan kekuatan yang lain memerlukan mobilitas atau keterampilan.
Senam lantai
Biasanya merupakan nomor pertama dalam pertandingan atas pertimbangan
kesempatan bagi para pesenam untuk juga berlaku sebagai pemanasan karena
gerakan-gerakannya tidak memerlukan tenaga otot yang luar biasa. Nomor
ini mungkin merupakan tontonan yang paling mengasyikkan dibanding dengan
alat-alat lain meskipun sebenarnya relatif berkembang paling baru.
Untuk pertama kali nomor ini sebagai nomor perseorangan dalam Olympiade
1932 dan bagi wanita baru 20 tahun kemudian.
Senam lantai sangat populer terutama bagi penyelenggaraan secara massal
yang dapat diikuti oleh ribuan peserta bersama-sama. Gerakan-gerakannya
dapat dikerjakan secara seragam dan membentuk formasi-formasi yagn
menarik dan mengesankan. Di negeri kita sekarang sedang digalakkan apa
yang disebut senam pagi Indonesia.
Lantai pertandingan berukuran 12 m2 dalam ruang yang berukurang 14 m2
dilapisi karpet kenyal setebal 0,045 m. Pria tampil dalam waktu 70 detik
dan wanita dengan diiringi musik 90 detik. Keduanya bertujuan untuk
memberikan kesan kepada para wasit dengan rangkaian urutan dari berbagai
lompatan, putaran, keseimbnagan dicampur dengan unsur-unsur lonjakan
dan akrobatik. Gerakan-gerakan yang menekankan tenaga harus dilakukan
secara lambat dan sikap statis sekurang-kurangnya 2 detik.
Gerakan-gerakan salto harus dikerjakan setinggi bahu.
Peralatan Senam Artistik
Ukuran alat
1. Bentuk putera ada 6 (enam) alat :
- Floor exercise (lantai)
Ukuran 12×12 m
- Pommel horse (kuda-kuda pelana)
Panjang 1.60 m
Tinggi 1.10 m
- Rings (gelang-gelang)
Tinggi 2.55 m
Jarak 0.50 m
- Horse vault (kuda-kuda lompat)
Panjang 1.60 m
Tinggi 1.35 m
- Parallelbar (palang sejajar)
Panjang 3.50 m
Jarak 0.48 s/d 0.52 m
Tinggi 1.75 m
- Horizontal bar (palang tunggal)
Panjang 2.40 m
Tinggi 2.55 m
2. Untuk puteri ada 4 (empat) alat :
- Horse vault (kuda-kuda lompat)
Panjang 1.60 m
Tinggi 1.20 m
- Uneven bars (palang bertingkat)
Panjang 2.40 m
Tinggi palang bawah 1.50 m
Tinggi palang atas 2.30 m
- Balance beam (balok keseimbangan)
Panjang 5.00 m
Tinggi 1.20 m
- Floor exercise (lantai)
Ukuran 12 x 12 m
Peraturan Umum Senam Artistik
1. Kejuaraan beregu (Kompetisi I)
- Setiap regu terdiri dari 6 (enam) pesenam putera/puteri.
- Terdiri dari rangkaian wajib dan rangkaian pilihan, pada putera 6 (enam) alat, puteri 4 (empat) alat.
- Juara beregu (Kompetisi I) adalah regu dengan jumlah nilai terbanyak, dari jumlah 5 (lima) pesenam
terbaik pada masing-masing alat untuk rangkaian wajib dan rangkaian pilihan.
Nilai maksimum untuk putera adalah : 12 nomor pertandingan x 50 = 600 (wajib dan pilihan) 6 nomor
pertandingan x 50 = 300 (pilihan)
Nilai maksimum untuk puteri adalah : 8 nomor pertandingan x 50 = 400 (wajib dan pilihan) 4 nomor
pertandingan x 50 = 200 (pilihan)
2. Kejuaraan perorangan serba bisa (Kompetisi II)
- Peserta finalis diambil dari 36 pesenam terbaik dari hasil kompetisi I, atau 1/3 dari jumlah peserta.
- Dibatasi 3 (tiga) pesenam dari tiap negara/daerah
- Hanya melakukan rangkaian pilihan :
* untuk putera 6 (enam) alat
* untuk puteri 4 (empat) alat
- Juara perorangan serba bisa (Kompetisi II) adalah pesenam dengan jumlah nilai terbanyak dari nilai
rata-rata pada Kompetisi I (wajib & pilihan), ditambah dengan nilai kompetisi II pada seluruh alat.
Nilai maksimum untuk putera = 120
Nilai maksimum untuk puteri = 80
3. Kejuaraan perorangan per alat (Kompetisi III)
- Peserta finalis diambil dari 8 (delapan) pesenam terbaik dari hasil kompetisi I pada alat tersebut.
- Dibatasi 2 (dua) pesenam dari tiap negara/daerah, dan hanya 3 (tiga) alat yang boleh diikuti oleh
seorang pesenam
- Hanya melakukan rangkaian pilihan :
* untuk putera 6 (enam) alat
* untuk puteri 4 (empat) alat
- Juara perorangan per alat (kompetisi III) adalah pesenam dengan jumlah nilai terbanyak dari nilai
rata-rata pada kompetisi I (wajib dan pilihan) ditambah dengan nilai kompetisi III pada
masing-masing alat.
Nilai maksimum untuk putera maupun puteri = 20.
TEKNIK SENAM LANTAI
1. Guling Depan (Forward Roll)
Guling depan adalah guling yang dilakukan ke depan. Adapun
langkah-langkah untuk melakukan guling ke depan adalah sebagai berikut.
a. Berdiri tegak, kedua tangan lurus di samping badan.
b. Angkat kedua tangan ke depan, bungkukkan badan, letakkan kedua telapak tangan di atas matras.
c. Siku ke samping, masukkan kepala di antara dua tangan.
d. Sentuhkan bahu ke matras.
e. Bergulinglah ke depan.
f. Lipat kedua lutut, tarik dagu dan lutut ke dada dengan posisi tangan merangkul lutut.
g. Sikap akhir guling depan adalah jongkok kemudian berdiri tegak.
2. Guling Belakang (Backward Roll)
Langkah_langkah guling belakang bulat yaitu sebagai berikut.
a. Jongkok, tekuk kedua siku tangan menghadap ke atas di dekat telinga, dagu dan lutut tarik ke dada.
b. Guling badan ke belakang hingga bahu menyentuh matras, lutut dan dagu tetap mendekat dada, telapak tangan di dekat telinga.
c. Bahu menyentuh matras, kedua telapak tangan menyentuh matras, gerakkan kaki untuk dejatuhkan ke belakang kepala.
d. Jatuhkan ujung kaki ke belakang kepala.
e. Dorong lengan ke atas.
f. Jongkok dengan lengan lurus ke depan.
3. Gerakan Lenting
Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan lenting tengkuk adalah sebagai berikut.
a. Sikap Awal
Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat dan kedua lengan diangkat lurus ke
atas. Sambil membungkukkan badan, tetakkan kediua tangan di matras
kira-kira satu langkah dari kaki. Setelah itu letakkan tengkuk di antara
kedua tangan sambil mengambil sikap guling depan. Kedua kaki dijaga
agar tetap lurus.
b. Pelaksanaan
Ketika posisi untuk guling depan tercapai, segeralah mengguling ke
depan. Saat tubuh sudah berada di atas kepala, kedua kaki segera
dilecutkan lurus ke depan sambil dibantu oleh kedua tangan yang
mendorong badan dengan menekan matras. Lecutan ini meyebabkan badan
melenting ke depan.
c. Sikap Akhir
Ketika layangan selesai, kedua kaki segera mendatar. Badan tetap
melenting dan kedua lengan tetap terangkat lurus. Akhirnya , berdiri
tegak.
4. Sikap Kayang
Caranya adalah sikap berdiri membelakangi matras dengan kedua kaki agak
dibuka dan kedua tangan diayunkan ke belakang, ke atas secara perlahan
hingga kedua telapak tangan menempel pada matras. Kemudian secara
perlahan berdiri tegak.
5. Sikap Lilin
Sikap lilin adalah tidur terlentang, dengan dilanjutkan mengangkat kedua
kaki lurus ke atas (rapat) bersama-sama. Pinggang ditopang oleh kedua
tangan, sedangkan pundak teta menempel pada lantai.
Lempar lembing
Cabang olahraga atletik adalah ibu dari sebagian besar cabang
olahraga (mother of sport), di mana gerakan-gerakan yang ada dalam
atletik seperti: jalan, lari, lompat dan lempar dimiliki oleh sebagian
besar cabang olahraga, sehingga tak heran jika pemerintah
mengkategorikan cabang olahraga atletik sebagai salah satu mata
pelajaran pendidikan jasmani yang wajib diberikan kepada para siswa
mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah lanjutan
menengah atas, sesuai dengan SK Mendikbud No. 0413/U/87.
Lempar lembing merupakan bagian dari nomor lempar yang terdapat dalam
cabang olahraga atletik. Dalam lempar lembing terdapat lari awalan dan
kebutuhan akan koordinasi gerak lempar yang lancar, yang dilakukan
sambil berlari dalam kecepatan optimal.
Lempar lembing mempunyai kekhususan bila dibandingkan dengan lempar
cakram dan tolak peluru, dimana lempar lembing tidak ditentukan oleh
tinggi, berat badan dan kekuatan maksimum si atlet, tetapi membutuhkan
power dan kekuatan khusus lempar di atlet sebagai hasil dari panjangnya
lari awalan. Oleh karena itu secara teknis, lembing hanya dapat dilempar
dengan baik bila dilakukan dengan irama, timing, serta koordinasi
gerakan halus yang dimulai dari kaki, tungkai, torso, dan lengan.
Selanjutnya gerakan dalam lempar lembing dapat dianalisis dan dihubungkan dengan prinsip-prinsip dalam biomekanika.
Dalam lempar lebing terdapat 3 cara untuk memegang lembing (Grip), yaitu:
1. Pegangan ibu jari dan jari telunjuk.
Dalam posisi ini ibu jari dan jari telunjuk berada di belakang tali
balutan lembing, sedangkan jari-jari yang lain berada di dalam ikatan.
2. Pegangan ibu jari dan jari tengah.
Posisi ibu jari dan jari tengah berada di belakang tali balutan, sedangkan jari telunjuk memanjang badan lembing.
3. Pegangan ”V”
Dalam pegangan ini lembing dipegang diantara jari telunjuk dan jari
tengah. Pegangan ini dapat mencegah terjadina cedera pada saat siku
diluruskan berlebihan (Over extended).
Lembing yang digunakan terbuat dari logam untuk Putra beratnya 800 gram
dengan panjang 2,70 m, sedangkan Putri beratnya 600 gram dengan panjang
2,30 m.
Gambar lapangan lempar lembing:
Untuk melakukan gerakan melempar dalam lempar lembing dapat dilakukan
dengan teknik gerakan lempar yang dapat dibagi menjadi beberapa tahap,
yaitu:
1. Lari Awalan (Approach)
Posisi awal, pelempar berdiri tegak menghadap ke arah lemparan dengan
kedua kaki sejajar. Lembing dipegang pada ujung belakang balutan tali
memungkinkan suatu transfer kekuatan di belakang titik pusat grafitasi,
sedangkan jari-jari mengimbangi tahanan dengan baik. Lengan kanan atau
yang digunakan untuk membawa lembing ditekuk dengan lembing dibawa
setinggi kepala dengan mata lembing menunjuk sedikit ke atas.
2. Lari Awalan 5 Langkah
Yang dimaksud lari awalan di sini adalah sepanjang 5-8 langkah sesuai
dengan kemampuan dalam lari sprint, seperti suatu lari percepatan dah
harus dalam satu garis lurus. Lembing masih dibawa dalam posisi setinggi
kepala dengan mata lembing tetap menunjuk sedikit ke atas. Punggung
tangan menghadap ke arah luar (latera). Selama lari lengan yang membawa
lembing bergerak hanya sedikit, sedangkan lengan yang lain bergerak
sesuai dengan irama lari. Lima langkah mengikuti lari awalan yang siklis
tanpa suatu gangguan/interupsi. Urutan langkah itu adalah kanan – kiri –
kanan – kiri – lempar.
Articulation merupakan sumbu putaran ketika melakukan lompatan Dan gerak
persendian ketika atlet tersebut berlari merupakan gerak berputar
dimana pusat putaran tersebut ada pada
1. Articulacio humeri merupakansumbu putaran ketika mengayunkan tangan.
2. Articulation coxae merupakan sumbu putaran saat mengayunkan tungkai.
3. Articulation merupakan sumbu putaran ketika melakukan lompatan
Gerakan penarikan lembing dimulai pada saat kaki kiri mendarat, bahu
kiri menghadap ke arah lemparan, lengan kiri ditahan di depan untuk
menjaga keseimbangan. Sedangkan lengan yang melempar diluruskan ke
belakang pada waktu langkan 1 dan 2, dan lengan pelempar ada pada posisi
setinggi bahu atau sedikit lebih tinggi setelah penarikan, serta ujung
mata lembing dikontrol selalu dekat dengan kepala atau di samping
telinga. Dalam hitungan 3, lembing harus benar-benar lurus dan hitungan 4
lakukan silang/dorongan aktif dengan kaki kanan ke depan bukan ke atas
menuju arah lemparan, badan condong ke belakang, bahu kiri dan kepala
menghadap ke arah lemparan, poros lengan pelempar dan bahu paralel, dan
langkah impuls adalah lebih panjang daripada langkah pelepasan/delivery.
Hitungan kelima atau langkah kelima mengikuti dengan menempatkan kaki
kiri yang diluruskan dan dikuatkan pada tumit masuk ke posisi power
(power position).
Dalam posisi power, lengan pelempar dengan lembingnya benar-benar berada
di belakang, membentuk garis lurus dengan bahu. Poros lembing dan poros
bahu adalah paralel, sedangkan mata memandang ke depan. Pusat massa
badan bergerak ke arah lemparan lewat atas kaki kanan dan dikontrol
oleh kaki yang diluruskan. Sedangkan kaki kiri memblok separo bagian
kiri badan. Dada mendorong ke depan dan menghasilkan ”tegangan seperti
tali busur” yang memungkinkan penggunaan sepenuhnya dari kaki , torso,
dan lengan pelempar. Tegangan busur meningkat dengan menahan lengan ke
belakang.
17.51
Unknown